fbpx
Buka jam 09.00 WIB s/d jam 21.00 WIB, Sabtu, Minggu Tetap Buka Kecuali Hari Besar Tutup
Selamat Jakoz!!! Selamat Bersua kanti-kanti! Kami Jakoz Beyik sebagai pusat oleh-oleh berbumbu Jambi menyediakan kebutuhan oleh-oleh khas dari Jambi untuk anda para wisatawan dan pecinta oleh-oleh :) Jakoz Beyik beralamat di Jl. Kol. Amir Hamzah, Sei. Kambang, Telanaipura, Kota Jambi. Hotline/WA: 0821 8024 9500 | Facebook: Jakoz Beyik | Instagram: jakoz_beyik
Beranda » Artikel Terbaru » Writerpreneur yang Takut Jadi PNS

Writerpreneur yang Takut Jadi PNS

Diposting pada 14 Juni 2016 oleh padi | Dilihat: 399 kali
writerpreneur yang takut jadi pns

writerpreneur yang takut jadi pns

Tribun Jambi, Writerpreneur yang Takut Jadi PNS
Kamis, 14 Juni 2012 14:44 WIB

BAGI banyak orang, menjadi pegawai negeri (PNS) adalah idaman. Tapi, tidak demikian untuk seorang Berlian Santosa. Pria kelahiran 1976 penyandang gelar Sarjana Peternakan dari Universitas Andalas, Padang tersebut, sebenarnya pernah merasakan menjalani tes seleksi CPNS 3 tahun silam. Namun, jika orang lain begitu berharap untuk dapat lolos, Ian, demikian Berlian biasa disapa, justru begitu takut jika sampai diterima. Kata suami Dian Prihati tersebut, kala itu dirinya mengikuti seleksi semata untuk menuruti keinginan orangtuanya.

“Mungkin waktu itu orangtua saya melihat usaha saya di sini masih belum menjanjikan. Mereka menginginkan pekerjaan yang aman dan tetap bagi saya,” kata Ian ketika ditemui Tribun di gerai kaus khas Jambi Jakoz, kepunyaanya, Rabu (13/6) siang.

Menurut Ian, bukannya tanpa sebab ia justru takut kalau sampai diterima. Kala itu, ia mulai merasa usaha kaus Jakoz yang dibangunnya sejak 2007 mulai menunjukkan prospek cerah. Seingatnya, enam bulan pertama sejak ia memindahkan gerai dari daerah Mayang ke Sungai Kambang pada medio 2009, telah mampu menghasilkan omzet Rp 3 juta- Rp 4 juta per hari. “Padahal waktu gerai masih di rumah di Mayang dulu, sebelum kami pindah kemari, pernah sebulan saja cuma laku 1 kaus,” kata Ian mengingat masa awal penuh perjuangan bagi Jakoz pada 2007 sampai 2009.

Pada masa awal ini, untuk menyokong pemasukan keluarga ia mengandalkan order jasa advertising hingga order MC acara. Maka seiring menanjaknya omzet, ayah dari Zahra (8) dan Amira (5) ini justru cemas bila fokusnya terpecah dengan bekerja sebagai orang kantoran. Ketakutan tidak dapat membagi fokus tersebut datang dari pengalamannya yang beberapa kurang mampu mengoptimalkan usaha yang dimilikinya semasa tinggal di Solo, Jawa Tengah, sehingga akhirnya mesti menutupnya.

Dulu semasa tinggal di Solo, Ian antara lain pernah memiliki usaha burger di daerah kampus Universitas Sebelas Maret, ternak kelinci skala kecil, hingga yang tergolong lumayan adalah toko plastik di daerah Bekonang, Sukoharjo. Usaha- usahanya dulu itu dikelola Ian di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai medical representative perusahaan farmasi asing dengan penempatan di Yogyakarta.

Maka, ketika akhirnya tidak lolos tes seleksi calon PNS, Ian justru kian yakin untuk menggeluti usaha kaus Jakoz yang dimilikinya. Pilihannya tersebut tenryata tak salah. Jakoz dalam 3 tahun terakhir sejak ber-homebase Sungai Kambang memang menanjak. Jika pada 2009 itu, Jakoz yang punya tagline “Kaus Berbumbu Jambi” baru memiliki 10 desain kaus, maka kini Jakoz di Sungai Kambang menjual paling tidak 45 macam desain kaus, yang mana masing-masing desain bisa memiliki hingga 1 atau 10 opsi warna kaus.

“Top five desain yang laris itu Rimba Boy dan Rimba Girl yang bisa juga jadi kaus couple, lalu Wisata Jambi, Jambi Bertabur Simpang, juga Di Jambi Ada di Jakarta. Selain itu di top ten-nya ada juga satu di antaranya Candi Muara Jambi, tapi itu kompetitor juga punya,” Ian pun menyampaikan omzet kotor Jakoz menembus Rp 50 juta sebulan. Angka itu tak cuma datang dari kaus. Gerai Jakoz juga menjual batik, penganan khas Jambi seperti kerupuk, madu, abon patin, nanas goreng, rambutan goreng.

Di sela kesibukannya mengurus usaha kaus Jakoz-nya, Ian aktif pula di dunia kepenulisan. Ia aktif di komunitas penulis, Forum Lingkar Pena (FLP) Jambi dari 2007, meneruskan aktivitasnya di FLP Solo. Sejak 2010, Ian juga menjabat sebagai Ketua FLP Jambi. Cerpennya antara lain mengisi antologi cerpen Negeri Cinta Batanghari yang merupakan karya keroyokan para pegiat FLP Jambi dan terbit pada 2011 lalu.

“Karena itu ketimbang disebut pengusaha, saya lebih nyaman disebut writerpreneur, penulis yang menulis sambil berusaha, atau entrepreneur yang berusaha sambil menulis,” kata Ian seraya tersenyum lebar. (yoseph kelik)

Sumber: http://jambi.tribunnews.com/2012/06/14/writerpreneur-yang-takut-jadi-pns

Bagikan informasi tentang Writerpreneur yang Takut Jadi PNS kepada teman atau kerabat Anda.

Writerpreneur yang Takut Jadi PNS | Jakoz Beyik

Belum ada komentar untuk Writerpreneur yang Takut Jadi PNS

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
QUICK ORDER
Peta Jambi

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

*Mulai Rp 50.000
Ready Stock / JKZ 69
*Mulai Rp 50.000
Ready Stock / JKZ 69
QUICK ORDER
Meniti Batang Antui

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

*Mulai Rp 95.000
Ready Stock / JKZ 15
*Mulai Rp 95.000
Ready Stock / JKZ 15
QUICK ORDER
Jembatan Pedestrian Gentala Arasy (Raglan)

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

*Mulai Rp 85.000
Ready Stock / JKZ 93
*Mulai Rp 85.000
Ready Stock / JKZ 93
SIDEBAR

Alamat

Gerai Utama Pabrik Oleh-Oleh Berbumbu Jambi, Pusat Oleh-Oleh Khas Jambi Terlengkap, Variatif & Parkir Luas Jl. Kol. Amir Hamzah No 4, Sei Kambang, Telanaipura (Depan Asrama Tentara Kambang) 082180249500